Seni selalu menjadi ruang di mana manusia dapat menyuarakan hal-hal yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Bagi banyak perempuan, seni bukan hanya media berekspresi—melainkan tempat perlindungan, ruang aman, dan jembatan untuk menyampaikan emosi yang selama ini tersimpan. Di antara banyak seniman perempuan Indonesia, dua nama menonjol karena cara mereka memaknai seni dengan pendekatan personal: Sakanti dan Chenny. Kisah keduanya menggambarkan bagaimana perempuan menemukan identitas, keberanian, dan kebebasan melalui lukisan.
Perjalanan Awal: Ketika Emosi Menyentuh Kanvas
Sakanti mengawali perjalanan melukisnya sejak usia belasan tahun. Ia bukan berasal dari keluarga seniman, tetapi sejak kecil ia memiliki kecenderungan menyimpan perasaan dalam-dalam. “Saya bukan tipe orang yang mudah bercerita,” katanya dalam sebuah wawancara. “Melukis menjadi bahasa yang terasa paling jujur.”
Motivasi awal Sakanti datang dari keinginannya untuk mengelola emosi yang sering kali rumit. Baginya, warna adalah perangkat terapi: biru untuk ketenangan, merah untuk keberanian, kuning untuk harapan. Dalam banyak karyanya, terlihat perpaduan warna-warna tersebut, sering kali abstrak namun penuh pesan tersembunyi.
Berbeda dari Sakanti, Chenny mulai menekuni seni di usia dewasa. Ia memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran yang membuatnya kelelahan secara mental dan fisik. Saat mencoba mengisi waktu dengan belajar melukis, ia justru menemukan panggilan yang selama ini ia abaikan. “Saat kuas pertama kali menyentuh kanvas, ada rasa yang tidak bisa saya jelaskan,” ujarnya. “Seolah saya akhirnya bisa mendengarkan diri sendiri.”
Chenny melihat melukis sebagai dialog antara dirinya dan masa lalu—tentang luka yang pernah ia alami, tentang mimpi yang sempat pudar, serta tentang keberanian menjadi diri sendiri tanpa tekanan sosial.
Seni Sebagai Bentuk Keberanian Perempuan
Keduanya memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi satu hal menyatukan mereka: seni menjadi medium pemberdayaan perempuan.
Di banyak masyarakat, perempuan sering diharapkan untuk lembut, diam, atau menahan opini agar tidak dianggap menentang norma. Hal ini membuat banyak perempuan sulit mengekspresikan pikiran terdalam mereka. Sakanti menyadari hal ini sejak kecil. “Perempuan sering diminta untuk terlihat sempurna. Tapi seni tidak menuntut itu. Seni menerima kekacauan, kegelisahan, dan rasa sakit.”
Karya-karya Sakanti sering menggambarkan sosok perempuan dalam pose kontemplatif, dengan ekspresi yang kuat namun samar. Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak harus selalu tampil tangguh untuk dianggap kuat. Kerapuhan pun sebuah bentuk kekuatan.
Sementara itu, karya Chenny sering menampilkan simbol-simbol yang berhubungan dengan perjalanan spiritual perempuan: bunga mekar sebagai representasi pertumbuhan, bulan sebagai lambang intuisi, dan garis-garis patah yang menandakan perjalanan hidup yang tidak selalu lurus. Baginya, setiap goresan kuas adalah perayaan dari proses penyembuhan.
Makna Personal di Balik Goresan Kuas
Sakanti mengaku bahwa setiap lukisannya adalah representasi dari fase hidupnya. Ketika ia mengalami kegagalan, karya-karyanya lebih gelap dan lebih berani dalam tekstur. Ketika ia bahagia, warna-warna cerah mendominasi. “Saya tidak ingin hanya membuat lukisan yang indah,” katanya. “Saya ingin membuat lukisan yang jujur.”
Di sisi lain, Chenny menekankan bahwa ia tidak pernah berniat membuat karya yang dikuratori oleh standar orang lain. Ia lebih mementingkan prosesnya. “Saya melukis untuk diri saya,” ujarnya. “Kalau ada yang melihat dan merasakan sesuatu, itu bonus.”
Menariknya, banyak perempuan yang melihat karya mereka merasa terhubung secara emosional. Ada yang merasa menemukan cerminan dirinya dalam lukisan-lukisan itu. Ada juga yang merasa seperti mendengar suara perempuan lain yang memahami apa yang ia rasakan. Inilah kekuatan seni: menghubungkan jiwa-jiwa tanpa kata.
Menghadapi Tantangan Sebagai Seniman Perempuan
Menjadi seniman perempuan bukanlah perjalanan yang mudah. Baik Sakanti maupun Chenny pernah merasakan tekanan untuk membuat karya “yang laku dijual”. Mereka juga pernah merasakan diragukan hanya karena mereka perempuan.
Sakanti menceritakan bahwa ia pernah menerima komentar merendahkan ketika pertama kali mengadakan pameran. “Ada yang bilang gaya saya terlalu feminin untuk dianggap serius,” ujarnya. “Padahal tidak ada yang salah dengan feminin.”
Chenny juga menghadapi stigma serupa, terutama ketika ia memutuskan meninggalkan pekerjaan stabil demi dunia seni. Banyak yang meremehkan keputusannya. “Saya dianggap mengambil jalan tidak masuk akal,” katanya. “Tetapi justru di dunia seni saya menemukan kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.”
Seni Sebagai Ruang Bebas Perempuan
Yang membuat kisah mereka menarik adalah pandangan bahwa seni bukan hanya karya tunggal—tetapi juga ruang bagi perempuan untuk hidup lebih bebas.
Di era digital, banyak perempuan mulai berani mengekspresikan diri lewat berbagai media kreatif. Melukis menjadi salah satu cara paling autentik karena tidak membutuhkan dialog langsung; ia berbicara melalui bentuk dan warna.
Baik Sakanti maupun Chenny percaya bahwa seni dapat menjadi gerakan kecil yang memengaruhi perubahan besar dalam cara perempuan dilihat dan dihargai. Mereka ingin perempuan lain tahu bahwa ekspresi diri bukanlah hal yang harus disembunyikan.
Membangun Komunitas Perempuan Berkarya
Kini, keduanya aktif membangun komunitas yang mendorong perempuan untuk berkarya tanpa rasa takut. Mereka sering mengadakan kelas melukis, diskusi seni, hingga pameran kecil yang difokuskan pada karya perempuan.
Tujuannya sederhana: memberi ruang bagi perempuan untuk bercerita.
“Mungkin tidak semua perempuan bisa berbicara lantang,” kata Sakanti. “Tapi setiap perempuan bisa menciptakan sesuatu yang memiliki suara.”
Chenny menambahkan bahwa komunitas ini bukan hanya tentang seni, tetapi juga tentang kesehatan mental. “Banyak perempuan yang datang membawa beban,” ujarnya. “Ketika mereka melukis, ada sesuatu yang terlepas.”
Seni yang Terus Hidup
Perjalanan Sakanti dan Chenny adalah bukti bahwa seni bukan hanya tentang estetika. Ia adalah kehidupan. Ia adalah bahasa emosional. Ia adalah cermin dari dunia batin yang sering disembunyikan perempuan—bahkan dari dirinya sendiri.
Keduanya menginspirasi banyak perempuan untuk menemukan keberanian mengekspresikan diri. Lewat warna, garis, dan bentuk, mereka menunjukkan bahwa perempuan tidak harus sempurna untuk dilihat, tidak harus kuat untuk dihargai, dan tidak harus diam untuk diterima.
Seni, bagi mereka, adalah tempat di mana perempuan akhirnya bisa bernapas sebagai diri sendiri.
